Tuesday, November 3, 2009

Tak Mau Merepotkan Keluarga


Empang – Ketika dijelaskan maksud kedatangan saya yang ingin mengetahui suasana lebaran yang dirasakan para penghuni panti, Mahfudin, petugas bendahara panti mempersilakan masuk dan saya menemui Kepala Panti Tresna Werdha, Rakhmat Nugraha untuk berbincang-bincang.
Ia mengatakan bahwa suasana lebaran di Panti Sosial Tresna Werdha “Sukma Raharja” sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya beberapa penghuni panti yang berlebaran bersama keluarganya karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.
“Kemarin kami mengantarkan Mak Zaenab ke keluarganya karena sakit. Kalau yang lain ada juga yang dijenguk keluarganya namun ada pula yang berlebaran dengan sesama penghuni panti lantaran tidak lagi memiliki sanak keluarga,” papar Rakhmat kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Setelah berbincang dengan kepala panti, ia memperkenalkan para penghuni panti yang sedang beristirahat di masing-masing kamarnya. Ada pula yang berkumpul di teras panti yang dihiasi dengan pot berbagai macam tanaman, menambah keasrian lingkungan panti.
Salah satu penghuni yang berlebaran bersama penghuni panti lainnya adalah Mak Ros dan Mak Ani. Sudah enam tahun Mak Ros tinggal di panti tersebut dan ia merasa nyaman dengan suasana panti yang asri dan ditemani teman-teman panti yang begitu bersahabat. Ketika berlebaran, ia menyempatkan diri untuk bertandang ke Otista, daerah kelahirannya. “Ketika lebaran, saya dua hari pulang pergi ke Jalan Otista dimana saya dilahirkan. Saya mengunjungi para tetangga dan keluarga saya disana. Saya selalu merindukan untuk berlebaran bersama keluarga disana. Namun, saya sudah menganggap penghuni panti adalah keluarga saya,” papar Mak Ros sambil tersenyum.
Lain mak Ros, lain pula Mak Ani. Wanita berusia 70 tahun ini berasal dari Aceh. Bertahun-tahun berkelana di Jakarta dan tidak memiliki anak, memaksanya untuk hidup di Panti. Ketika berlebaran, ia pergi sendiri ke Jakarta untuk menemui keponakannya di daerah Bintaro. “Saya diminta untuk memasak disana. Apalagi memang saya lebih nyaman berlebaran bersama keluarga tapi tetap saja tidak bisa melupakan kebersamaan bersama penghuni panti lainnya,” ujar wanita bekacamata itu.
Para wanita lansia itu mengaku beruntung kehidupan tuanya ditanggung oleh pemerintah. Mereka menunggu uluran tangan dari para dermawan atau hanya sekedar anggaran khusus bagi mereka kaum dhuafa. Kebanyakan dari mereka adalah para wanita yang tidak memiliki anak, sehingga di masa tuanya mereka tak memiliki tempat bernaung atau orang yang akan mengurus mereka hingga kelak waktunya tiba.
“Ada saudara pun saya tidak mau menyusahkan mereka. Kehidupannya saja sudah sulit apalagi kalau ditambah lagi dengan saya yang sudah tua. Tak mau merepotkan mereka,” tukas Ani.
Hari-hari tua para wanita berusia antara 60 hingga 94 tahun itu diisi dengan mengikuti bimbingan keterampilan seperti menyulam, merenda, membuat baju boneka dan membuat telor asin.
“Selain itu juga ada kegiatan keagamaan yang menambah iman mereka maupun kegiatan penyehatan jasmani seperti senam lansia untuk meningkatkan kesehatan mereka selain tensi darah yang dilakukan setiap hari oleh tiga perawat kami yang berjaga selama 24 jam,” tandas Rakhmat.

No comments: