Tuesday, February 7, 2012

Balawan Bifan Duo

Dunia Jazz Indonesia makin ramai saja dengan beragam proyek musisi yang makin beragam. Djarum Java Jazz Festival 2012 Maret mendatang pun turut menghadirkan kelompok musisi jazz baru namun dengan orang lama di dalamnya. Kali ini BiFan Duo yang berasal dari kata Be Fun dalam bahasa Inggris beranggotakan gitaris I Wayan Balawan dan bassis Fajar Adi Nugroho.

Bifan Duo juga diambil dari nama mereka masing-masing. Sungguh perpaduan dua talenta besar yang dimiliki Indonesia. Balawan menjelaskan bahwa grup ini gabungan antara ‘tapping dan slappin’ akan membawakan lagu-lagu orisinal.

Balawan kita kenal lewat kelompok Batuan Etnik Fusion dan Gamelan Maestro selain juga aktif di Trisum bersama gitaris Budjana dan Tohpati. Ia telah merilis beberapa album antara lain gloBALIsm, Balawan, Magic Fingers dan See you Soon. Bersama Trisum, Balawan telah merilis dua album yakni Trisum 1st Edition dan Five in One.

Di lain sisi, bassis Fajar Adi Nugroho sempat tampil di Rusia dan Erasmus Huis Jakarta akhir Desember lalu bersama Indro Hardjodikoro The Fingers. Pria kelahiran Jakarta, 15 Februari dan anak kedua dari empat bersaudara ini  mengenal dunia musik ketika berumur 15 tahun. Ia sempat bermain dalam berbagai aliran musik mulai dari hiphop sampai rock.

Jika di review lebih lanjut, penampilan mereka pasti akan memukau pengunjung Djarum Java Jazz Festival 2012 nanti yang akan digelar  di B2 Hall Kementerian Perdagangan. Bagaimana tidak, mereka akan menghibur pengunjung dengan teknik permainan gitar yang luar biasa, harmonis dan yang terpenting adalah FUN!

Pria kelahiran Bali, 9 September 1973 (Balawan) ini juga dikenal sebagai satu-satunya gitaris profesional yang dikenal dengan teknik "Touch Tapping Style" (seperti halnya Stanley Jordan) dia Asia. Sebuah permainan yang memanfaatkan ke-delapan jari untuk memainkan tap pada fretboard. Sekilas permainan ini kelihatan seperti permainan piano: permainan bass, chord dan melody, semuanya dimainkan dengan jari kiri dan jari kanan... nyaris tanpa dipetik.

Sedangkan Fajar pernah tampil bersama “7 Bass” dengan Indro Hardjodikoro, Tendra (Groovology), Adi Dharmawan (Nera) , Ilyas M (Tompi) , Barry Likumahuwa, dan Kristian (Tangga) yang diadakan oleh Farabi Music School dan GKJ.

Catat tanggal mainnya, Jum`at, 2 Maret 2012!
(Sri Wahyuni)
   

Monday, February 6, 2012

Trio Lestari Siap Tampil di JJF 2012



Ketiganya memiliki nama besar, memiliki skil dan talenta bermusik yang sudah tidak diragukan lagi, dan memiliki penggemar yang luar biasa banyaknya. Dedikasi ketiga artis ini dalam dunia musik juga sudah teruji. Siapa lagi kalau bukan Tompi, Glenn Fredly dan Sandhy Sondoro. Tiga penyanyi papan atas Indonesia ini tergabung dalam kelompok Trio Lestari.

Mereka menggebrak dunia musik Indonesia dengan membuat konser musik yang sukses dan tiada duanya. Konser pertama mereka telah berlangsung di Central Park, Jakarta pada 17 Juni 2011 lalu, setelah itu konser-konser di kota lainnya pun telah menunggu penampilan Trio ini dalam konser bertajuk Surya 16, An Exclusive Experience with Tompi, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, tahun lalu.
Ketiga kampiun musik Indonesia ini memiliki kekuatan masing-masing yang tiada duanya. Kelebihan mereka disatukan namun bukan jadinya berantakan namun menjadi sinergi yang mumpuni untuk memukau telinga siapapun yang mendengarnya.

Glen Fredly dengan gaya suara dan musik pop R ‘nB nya yang sering memakai suara tinggi baik valsetto maupun non valsetto. Tompi dengan suara Jazzinya yang dikemasnya secara dinamis menggunakan range vokal yang luas, mampu bernada tinggi tapi berkarakter vokal yang tebal. Sedangkan Sandy mempunyai suara lebih dominan musik Blous yang mudah dalam menjangkau nada tinggi dan berat.

"Saya hitungan-nya sebagai anak baru di Indonesia, mereka berdua ini dah jago, jadi saya senang bisa explore musik dengan mereka," kata Sandhy Sundoro di suatu kesempatan.
Untuk keberadaannya di dunia musik sendiri, mereka mempunyai tempat khusus di mata penggemarnya. Glen yang peduli terhadap masalah sosial melalui jalan kebudayaan, Tompi dengan image seorang dokter yang kerap membuat hits dan Sandy dengan bakat alam yang diakui dunia Internasional akan bersatu dalam kekuatan luar biasa.

Tak diragukan lagi, bahwa ketiga artis ini mempunyai kekuatan secara eksistensi dan musikalitas. Dan ketiganya adalah penyanyi pria terbaik dan terpopuler di Indonesia. Kemudian ini menjadi pernyataan yang secara tak langsung menyatakan bahwa ketiga artis ini akan sangat dahsyat jika disatukan dalam satu panggung dan pasti akan mengundang apresiasi dan animo yang hebat dari penikmat musik Indonesia.
Penasaran bagaimana penampilan tiga kampiun musik Indonesia di Djarum Super Mild Java Jazz 2012? Segera catat tanggal mainnya, 4 Maret 2012 di B1 Hall. Don`t Miss It!

Saturday, February 4, 2012

Gitar dan Dewa Budjana


Jika bertanya siapa soulmate Dewa Budjana kepada Denny Sakrie (pengamat musik), pastilah jawabnya adalah gitar. Gitar adalah sebuah kehormatan dan harga diri. Ini diperlihatkan ketika menggelar konser tunggalnya di Gedung Kesenian Jakarta, yang dibarengi peluncuran buku Gitarku, Hidupku, Kekasihku. Kekaguman dan luapan rasa cinta Budjana terhadap sosok wanita juga sangat terasa dalam beberapa komposisi karyanya. Pada saat itu Budjana menggunakan 8 gitar kesayangannya, termasuk gitar Parker Fly yang diberinya nama Saraswati.

Siapa yang tak kenal Dewa Budjana? Malang melintang di dunia musik Indonesia dengan sejuta karya. Gitaris, komposer sekaligus produser. Pria kelahiran 30 Agustus 1963 di Waikubak, Sumba Barat ini telah mengakar di band GIGI lantaran perannya sebagai gitaris dan pencipta lagu. Tak pelak kesuksesan band yang didirikannya bersama Armand Maulana ini tak lepas dari tangan dingin Budjana.

Ia mampu menyatukan kekuatan musik rock dan pop secara bersama-sama. Musikalisasi dari petikan gitarnya membawa ia menjadi salah satu gitaris top papan atas Indonesia. Bakatnya telah terlihat sejak ia duduk di bangku sekolah dasar di Klungkung Bali. Keinginannya untuk belajar gitar sangat dominan, sampai-sampai ia harus mencuri uang neneknya pada saat usia 11 tahun untuk membeli gitar seharga Rp 10.000 saat itu.

Sejak saat itulah Budjana kecil tidak memiliki semangat untuk bersekolah karena baginya gitar adalah nomor satu. Belajar otodidak, dia mampu dengan cepat dan mahir memainkan lagu Deddy Dores berjudul “Hilangnya Seorang Gadis” dan lagunya The Rollies berjudul “Setangkai Bunga”.

Ketika pindah ke Surabaya pada tahun 1976, ia semakin bergairah bermain musik. Namanya pun mulai dikenal di Surabaya. Jalannya menggapai mimpi ia mulai dengan mengambil kursus musik klasik dan bergabung dengan sebuah band jazz pertama. Kemudian, pada tahun 1981 dia membeli sebuah gitar listrik ( Aria Pro II) dan mulai bermain musik dengan banyak orang yang berbeda. Perlahan-lahan gaya musiknya mulai berubah dari rock, pop ke jazz. Saat itu ia mulai terpengaruh oleh John McLaughlin dari Mahavishnu Orchestra, Chick Corea, Gentle Giant, Kansas, Tangerine Dream, American Garage, Pat Metheny dan Allan Holdsworth.

Kelihaiannya memetik gitar membuahkan hasil. Bersama bandnya ‘Squirrel’, Dewa Budjana memulai karirnya sebagai gitaris komposer, padahal ia masih duduk di bangku SMA. Ketika band lokal jazz memainkan lagu-lagu popular dari band lain, ia menciptakan komposisi Nusa Damai yang membawa bandnya menjadi Band Terbaik di Light Music Contest pada 1984 yang diselenggarakan di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki. Ia pun menjadi pemain gitar terbaik.

Setahun kemudian, ia hijrah ke Jakarta dan membawanya ke Jack Lesmana seorang legenda jazz Indonesia yang memperkenalkannya kepada musisi profesional lainnya. Dari beliau Budjana banyak mengenal dan mendapatkan pengetahuan mengenai filosofi-filosofi dalam bermain jazz, termasuk tentu saja bermain standard jazz dengan lebih baik.

Beruntung tidak berapa lama setelah itu Budjana mulai banyak mendapatkan tawaran untuk mengisi rekaman-rekaman kaset seperti pada album solo Indra Lesmana, Catatan si Boy II, Andre Hehanussa, Heidy Yunus, Memes, Chrisye, Mayangsari, Dewi Gita, Desy Ratnasari, Potret, Trakebah, Caesar (Deddy Dores), Nike Ardila dan lain-lain.
Sebelum bergabung dengan GIGI, ia sempat bergabung ke Spirit band dan sempat merilis dua album, yang pertama berjudul "Spirit" dan yang ke dua berjudul "Mentari".  Ia memutuskan keluar dan bergabung dalam Java Jazz (Indra Lesmana). Tak hanya itu, ia juga sempat bermain dengan banyak band seperti Jimmy Manopo Band, Erwin Gutawa Orkestra, Elfa's Big Band dan Twilite Orchestra.

Masih setia dengan GIGI yang dibentuknya pada tahun 1994 bersama Baron (gitar), Thomas (bass), Armand Maulana (vokal) dan Ronald (drum). Bersamaan dengan GIGI di album yang ke enam, Budjana mencoba meneruskan cita-citanya yang dulu yaitu membuat album solo jazz. Sejak saat itu Budjana telah merilis sebanyak 4 album solo yang berjudul : Nusa Damai, Gitarku, Samsara dan Home yang merupakan album penghormatan kepada korban bencana Tsunami.

Thursday, February 2, 2012

Menunggu Penampilan TRISUM

JAKARTA - Bisa dibilang mereka adalah ‘dedengkot’nya para musisi Indonesia yang tak asing lagi di telinga para penikmat musik tanah air. Trisum adalah proyek yang digagas oleh Dewa Budjana dan Tohpati. Mereka tampil pertama kali di Taman Ismail Marzuki tahun 2005. Konser itu direkam dan kemudian dirilis menjadi sebuah album CD dan DVD.  Tak seperti sekarang, formasi pada saat itu plus Balawan (gitar), Eugene (flute/klarinet), Saat (suling) dan Sandy Winarta (drums). Trisum sempat pula tampil dengan formasi lain bersama Donny Suhendra dan Yesaya Sumantri.
Namun kini, Trisum telah kokoh dengan personil Dewa Budjana, Tohpati, Wayan Balawan, Indro Hardjokodikoro dan Yesaya Sumantri. Sebelum tampil pada 2 Maret 2012 di A3 BNI Hall, yuk kita lirik masing-masing profil personilnya.
Dewa Budjana, siapa yang tak kenal gitaris band rock kenamaan, GIGI. Telah malang-melintang didunia rekaman maupun panggung pertunjukan di tanah air. Salah satunya karyanya dengan maestro pianis, Bubi Chen dalam sebuah nomor ragtime.
Sementara Tohpati atau yang akrab disapa Bontot merupakan gitaris yang juga kerap tampil di televisi mengiringi banyak penyanyi terkenal di Indonesia. Ia juga sebagai co-leader dikelompok simakDialog. Bersama Riza Arshad dan kawan-kawan, Bontot telah merilis 4 buah album.
Wayan Balawan, merupakan gitaris yang memiliki keunikan permainan. Ia disebut-sebut sebagai Stanley Jordan-nya Indonesia, karena kemampuan tapping-technique-nya. Bersama Batuan Ethnic Fusion ia merilis album bertitel gloBALIsm, yang kemudian disusul sebuah album solo yang direkam di Acoustic Records, sebuah perusahaan rekaman Jerman.
Bassis Indro Hardjodikoro sebelumnya pernah bergabung dengan simakDialog bersama Tohpati, Arie Ayunir dan Riza Arshad. Tapi ia keluar dari grup tersebut dan menjadi kawan setia Tohpati di grup Ethnomission. Pria yang juga telah menelurkan banyak murid-murid berbakat ini, juga mengisi bass untuk sederet penyanyi-penyanyi Indonesia seperti Chrisye, 3Diva, Krisdayanti, Ruthsahanaya dan artis-artis international seperti Dave Koz, Eric Marienthal, George Duke, Sheila Majid, Asia Rythm Beat bersama Lewis Pragasm dan masterclass di Rythm and Groove Music Camp di Jakarta bersama Victor wooten. Ia merilis album solonya ‘The Fingers’ tahun lalu.
Yesaya Sumantri merupakan salah satu drummer muda yang memiliki jam terbang tinggi. Selain bersama Trisum, ia juga mendukung Tompi dan terkadang beberapa kelompok musik lainnya.
Jangan lewatkan penampilan mereka dalam Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012, tanggal 2 Maret 2012. Siapa tahu mereka akan membawakan salah satu lagu dari album mereka, “Five in One” yang mendengarnya saja bisa membuat kita tersenyum, apalagi melihat aksi mereka bertiga lewat Youtube. Judulnya ‘All U Can Eat’. (Yuni)

Wednesday, February 1, 2012

60.000 Pasang Mata jadi Saksi Pertunjukkan Spektakuler 2012

ANCOL – Sebanyak 60.000 pengunjung memadati kawasan pantai carnival Ancol demi menyaksikan pertunjukkan kembang api dengan iringan music rock terlama tahun ini. Pertunjukkan ini pun telah memecahkan rekor IBOR (Indonesia Book Of Record), lebih lama 5 menit dengan tambahan 5000 tembakan kembang api dari tahun lalu yang juga dipecahkan oleh tim Firemaxx Bumame Indonesia bekerjasama dengan Taman Impian Jaya Ancol.
“Tahun lalu sebanyak 38.000 orang dan tahun ini pengunjung meningkat dua kali lipat dari tahun lalu,” ujar Direktur Rekreasi PT.Pembangunan Jaya Ancol Tbk. kepada wartawan.
Menurut Doni, komisaris Firemaxx Bumame Indonesia, kembang api yang ditembakan khusus diimpor dari Cina. Pertunjukkan kali ini pun merupakan pembuka dari rencana acara International Festival Firework di Indonesia. “Baru rencana dan semoga saja bisa dilaksanakan,” harapnya.
Dari segi teknologi, perlengkapan yang digunakan lebih canggih dan lebih baru dari tahun lalu dengan tingkat delay lebih sedikit yakni 0,015 detik untuk setiap tembakannya. Pertunjukkan kembang api ini merupakan  pertunjukkan terbaru dengan sebagian besar musik yang digunakan adalah musik rock yang jarang digunakan pada pertunjukkan kembang api musikal pada umumnya.
“Jika biasanya musik orchestra yang digunakan, tahun ini kami menggunakan music rock yang menghentak. Namun lagu yang disajikan merupakan lagu yang sudah familiar di telinga pengunjung,” papar Sherwin Djajadi, Fireworks show designer.