Thursday, April 2, 2009

Emperan Jalan Suryakencana


Menjual Kenangan Masa Lalu
Lihatlah jalan Suryakencana pada siang hari. Padat, panas, pengap dan terkadang bau yang diakibatkan oleh air sampah tertumpuk di pinggir saluran air. Hal ini diakibatkan oleh padatnya penjualan yang kurang tertib dan teratur. Mulai dari lapak ilegal sampai pada pengelolaan sampah yang berantakan.

Meskipun begitu, apapun dapat kita temukan di sana. Mulai dari kebutuhan sandang, pangan, dan kebutuhan papan. Berbagai etnik bangsa mulai dari warga pribumi sampai dengan warga keturunan Tionghoa ada di wilayah yang disebut dengan China Town-nya Bogor.

Jika kita amati, dari beberapa perniagaan di sana, ada beberapa perniagaan yang menarik untuk disimak dan jarang untuk ditemui di tempat lain di kota Bogor. Seperti penjualan barang-barang antik sampai kaset-kaset bekas di sepanjang jalan Suryakencana tidak hanya menjual barang-barang bekas tapi juga menjual kenangan indah masa lalu.

Berbagai macam perkakas rumah tangga dan beberapa alat elektronik bekas dijual. Seperti uang lama, kaset bekas, batu cincin, barang-barang elektronik bekas yang terkadang tak utuh lagi pun dijual disana.


Heri, 12 tahun berjualan kaset bekas di emperan jalan Suryakencana mengatakan begitu banyak suka duka berjualan di emperan jalan. “Terkadang pengunjung ramai, kadang-kadang pengunjung juga tidak ada satupun yang membeli. Tapi saya tetap bertahan berjualan kaset bekas ini karena tidak ada penghidupan lain,” ujar Heri, pedagang kaset bekas kepada Jurnal Bogor kemarin.

Harga yang ditawarkan mulai dari dua ribu sampai lima ribu rupiah. Tergantung dari kelangkaan kaset itu. Kaset bekas yang dijual jumlahnya sedikit dibandingkan dengan yang dikios. Hanya kisaran puluhan jumlahnya. Stok barang didapat dari orang-orang yang mau menjualnya. “Biasanya saya membeli dari mereka seharga Rp 500,- hingga Rp 1500,-,” ujar Heri sambil membersihkan dagangannya.

Lain Heri, lain pula H. Holis. Beliau adalah penjual arloji bekas terlama dan memiliki kios rokok kecil di depan Gg. Pedati. “Dulu masih jualan di Gg. Pedati. Sekarang setelah 1968 ditertibkan kemari. Pengunjungnya tak kalah ramai kok. Kalau sekarang sedikit menurun karena krisis ekonomi,” ujar pria kelahiran 1942 itu.

Meskipun lapak mereka bisa dibilang ilegal karena tidak memiliki tempat khusus untuk berjualan, mereka tetap bertahan karena kebanyakan dari mereka tidak punya usaha sampingan selain penjualan barang-barang bekas. Dari sinilah mereka dapat menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. “Saya bisa menyekolahkan anak saya sampai perguruan tinggi dengan berjualan seperti ini. Memang ada berkah dan kesulitannya,” pungkas H. Holis tersenyum.

Monday, March 23, 2009

Kemana CERSIL (Cerita Silat) itu?


Pada era rezim Soeharto, pendidikan di kalangan etnis Tionghoa agak terhambat. Hal itu sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan Bahasa Tionghoa, baik Mandarin atau dialek lain, dilarang negara. Hal itu memang terus berjalan sampai datangnya masa reformasi. Meskipun demikian, karya Kho Ping Hoo alias Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo seperti cerita-cerita silatnya tetap bisa eksis di masa yang langka dalam "pendidikan" kebudayaan, sejarah, agama bahkan moral Tionghoa.

Karya-karya yang dikemas full text dan irit ilustrasi tetap menjadi suatu fenomena pada masanya dan menempati tempat di hati para penggemarnya. “Cerita-ceritanya membuat penasaran setiap pembaca. Malah, bagi sebagian orang hal itu sudah menajdi suatu hobi,” ujar Baehaqi, penggemar Kho Ping Hoo kepada Jurnal Bogor beberapa waktu lalu.

Cerita Silat Kho Ping Hoo tetap berkesan mendalam bahkan menjadi pembentuk watak bagi jutaan penggemarnya. Setiap tokoh dan tempat-tempat yang diceritakan dibeberkan serealistis mungkin. “Karyanya itu banyak membangkitkan imajinasi si pembaca. Seolah-olah kita merasakan dan melihat sendiri tempat dan kejadiannya,” katanya.

Di samping itu, rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang Tiongkok atau China selalu menghantui para pembacanya. Mulai dari jurus-jurus yang digunakan sampai pada makanan khas cina. Hal ini bisa menjadi sebuah inspirasi baru bagi setiap pembaca yang membaca cerita silat yang sudah ratusan jumlahnya.

Karya Kho Ping Hoo juga merupakan gambaran yang menarik dari sebuah perjalanan pendekar-pendekar silat. Merupakan cerita dari perseteruan kubu yang baik dan kubu yang jahat tetapi tetap saja kebenaranlah yang akhirnya menang. “Dari karya-karyanya bisa kita petik sebuah perebutan kekuasaan, sifat-sifat manusia yang iri dengki maupun perkelahian yang melatarbelakangi hal itu semua,” papar pria yang sudah mulai membaca serial Kho Ping Hoo sejak SMP ini.

Di tengah-tengah maraknya perkembangan buku Indonesia dari mulai komik sampai pada novel kontemporer ditambah lagi karya sastra luar, hal ini sedikit mulai sedikit tergerus oleh perkembangan zaman. “Anak-anak sekarang lebih memilih komik atau cerita bergambar lainnya. Sekarang pun walaupun saya sudah mengoleksi puluhan karyanya, saya tidak membacanya lagi,” pungkasnya. Sri Wahyuni

Monday, February 9, 2009

CAP GO MEH 2560


Amazing... It`s Super Duper Fantastic Moment that people at Bogor saw. This is event celebrate every year. Many people came to see this from morning until midnight. Altough the rain has come, the respond from the people very good.

There is many journalist and photographer including hobies and Club report folk party. there is "pawai" that begin at four o`clock until midnight. Today, February 9, 2009, Jl. Suryakencana crowded about 12.000 people among society all aroung kota Bogor. not only from there, the Media from China report this moment for their comunity.

as long as the event, many "Joli" vehicle of God brought by people from Vihara Dhanagun until Jl. Siliwangi. Almost people get entertain from Ling dan Barongsai. MAny people give some money, angpao, for the liong. they took the envelop to the Mouth of Liong.

From baby, Child, until older people saw this great event at Bogor.
"This is gift from God. we must always thanksful to god. because gift from GOD will bless us long as year," David Kwa, said him yesterday.

Tuesday, January 20, 2009

Motivasi Diri, Disiplin Mandiri

Para mahasiswa yang notabene seorang yang berjiwa semangat muda dan pantang menyerah, terkadang harus bergelut dan pasrah dengan yang namanya ujian. Entah itu ujian harian, UTS (Ujian Tengah Semester), dan UAS (Ujian Akhir Semester), yang terkadang sangat ditakuti mahasiswa. Ketakutan itu bukan tanpa alasan, pasalnya, sebagian dari mereka menyatakan ketidaksiapannya untuk mengikuti ujian dengan berbagai alasan. Hal ini dipakai sebagai alasan bagi mereka untuk melakukan SKS (Sistem Kebut Semalam).
Seorang siswa SMA masih menyempatkan belajar di dalam sebuah commuterline
Ujian harian atau ujian semester disikapi dengan rasa takut dan ketidakpercayaan diri atas kemampuannya. Padahal, apabila rasa percaya diri itu dipupuk dan belajar dengan tekun akan membuahkan manfaat yang akan dirasakannya sendiri di masa yang akan datang. Ketidaksiapan yang mereka rasakan didapat dari berbagai faktor. Faktor dari dalam diri maupun dari lingkungan seperti teman yang mempunyai kebiasaan (red-SKS) yang sama.

Seperti yang diungkapkan oleh Heni Rahmini Handayani, S.Kom, Dosen Diploma IPB yang ditemui Studenta Jurnal Bogor, faktor dari dalam dirilah yang mempunyai andil yang sangat besar untuk membuat para mahasiswa tersebut bisa disiplin dalam belajar. Lingkungan hanya sebagian kecil faktor yang membuat mahasiswa melakukan SKS.

“Sistem SKS itu sangat tidak bagus ya, karena kemungkinan besar yang ada hanya rasa kantuk pada waktu ujian. Hal ini bukannya membantu, tapi malah bisa menjerumuskan mereka karena tidak berkonsentrasi dalam mengerjakan ujian,” ujar Heni kepada Studenta Jurnal Bogor, kemarin.
Dosen Pemrograman Web ini juga mengatakan, SKS adalah suatu kebiasaan yang harus dihilangkan. Butuh suatu motivasi diri untuk lebih disiplin dalam belajar dan dukungan dari berbagai pihak untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut.

“Kebiasaan saya waktu kuliah adalah membaca bahan kuliah minimal seminggu sebelumnya. Pada malam hari sebelum ujian berlangsung, saya hanya tinggal me-review apa saja yang telah saya pelajari sebelumnya.

Cara ini saya pandang sangat efektif untuk metode belajar yang baik. Saya juga sering mengingatkan pada mahasiswa saya agar melakukan hal demikian demi kebaikan mereka juga,” ungkapnya.
Disiplin dalam belajar agar tidak melakukan SKS itu sendiri juga bukan merupakan hal yang mudah apabila dikerjakan dengan rasa berat hati. Butuh dukungan dari berbagai pihak agar SKS ini tidak membudaya di generasi muda Indonesia. Karena manfaat yang didapat sangat sedikit malah bisa dibilang sangat merugikan mahasiswa.

“Walupun sudah diingatkan, terkadang kebiasaan itu sudah menjadi budaya. Kembali lagi pada diri sendiri untuk memulai dan mau berubah untuk menjadi lebih baik. Mulai dari diri sendiri dan dari sejak dini. Motivasi diri agar disiplin mandiri,” tandasnya.

"Anda masih malas belajar? Setan saja tidak pernah malas!"

Monday, July 14, 2008

Ikan Aneh

Ikan Peralihan Salah Satu Matanya Naik





Ikan pipih seperti flounder berekor kuning ini memiliki kedua mata di bagian atas kepala.

JAKARTA, SENIN - Di mana-mana ikan punya sepasang mata. Ikan umumnya memiliki sebuah mata masing-masing di kedua sisinya. Sementara ikan yang tubuhnya pipih mengembang secara horisontal, kedua matanya ada di bagian atas kepalanya.

Namun, 50 juta tahun lalu terdapat ikan yang memiliki susunan mata berbeda. Salah satunya di bagian sisi, namun bagian lainnya menghadap ke atas. Makhluk yang hanya dapat dipelajari dari fosil-fosilnya itu mungkin nenek moyang ikan yang dapat mengungkap proses evolusinya di perairan.

"Apa yang kami temukan adalah bentuk peralihan," ujar Matt Friedman, peneliti dari Field Museum di Chicago, AS yang melaporkan hasil analisisnya dalam jurnal Nature edisi terbaru. Penemuan fosil tersebut juga menguatkan pendapat bahwa tubuh ikan yang pipih mungkin akibat adaptasi secara bertahap.

Apalagi, tidak hanya satu jenis ikan yang memiliki ciri khas tubuh seperti itu. Friedman menemukan dua spsimen berbeda di lapisan lempung di utara Italia. Masing-masing diberi nama spesies Heteronectes chaneti dan Amphistium paradoxum. Dari situs di Paris, Perancis juga ditemukan spesies lainnya, Amphistium altum.

Fosil-fosil tersebut sebenarnya telah ditemukan sejak lebih dari 100 taun lalu dan tersimpan di sejumlah museum di Inggris, Perancis, dan Austria. Namun, tidak disadari karena dianggap sama seperti ikan pada umumnya.

Padahal, setelah diamati lebih mendalam, kedua matanya tidak simetris. Posisi mata yang naik ke bagian atas tubuhnya mungkin membantunya melihat mangsa saat bermigrasi dari penjelajah dasar perairan ke permukaan.

Ikan yang panjangnya sekitar 30 centimeter dari ujung moncong hingga sirip ekor diperkirakan hidup di perairan dangkal di Eropa pada Zaman Eocene. Saat itu kondisi permukaan Bumi mulai hangat dan menjadi zaman bekrmebangnya mamlia air seperti paus serta burung.


WAH
Sumber : LIVESCIENCE