Monday, November 2, 2009

Hantu Jamu Gendong dapat Kursus Gratis


1st Winner Best Costumes at TBI

Halloween adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober yang biasa dilakukan di Amerika Serikat. Padahal tradisi perayaan ini berasal dari Irlandia. Akulturasi kebudayaan terhadap tradisi ini akhirnya juga diserap di Indonesia. TBI atau The British Institute, salah satu tempat kursus Bahasa Inggris yang berlokasi di Jalan Pajajaran 88 K-L, Villa Indah Pajajaran ini mengadakan dua hari perayaan Hallowen yang dimaknainya sebagai ajang unjuk gigi kreativitas dari setiap guru dan siswanya.
“Tak hanya anak muridnya saja, tapi juga para staf dan guru di TBI ini menyambut dengan antusias Hallowen Party yang memang tiap tahun kami adakan dengan memakai kostum,” papar Gina Roosanty, Marketing Officer TBI Pajajaran kepada Jurnal Bogor.
Halloween Party yang diadakan pada tanggal 28 hingga 29 Oktober 2009 ini memang dilaksanakan sebelum hari H-nya yaitu 31 Oktober 2009, namun tak menghilangkan kesan “Spooky but Having Fun” (seram tapi menyenangkan).
“Kami memang tak menginginkan suasana yang menyeramkan. Suasana Halloween sudah pasti ada, namun kami kemas dalam games yang menarik sehingga anak-anak dapat mengambil pelajaran penting dan positif yaitu kreativitas dari tradisi perayaan asal barat ini,” jelasnya.
Setiap anak dianjurkan untuk mendandani dirinya seseram mungkin dengan barang atau prakarya yang mereka buat sendiri. Para guru pun membantu prakarya tersebut. Yang menarik adalah lomba kostum yang diikuti oleh anak-anak. Para guru sangat terkejut dengan kreativitas para murid ini karena diluar dugaan mereka bisa tampil unik dan luar biasa. Dalam lomba yang dilaksanakan untuk para murid yang berumur lima tahun ke atas ini, tak hanya kostum hantu dari luar negeri saja yang ikut serta tapi juga hantu Indonesia.
“Hantu ala Indonesia inilah yang keluar sebagai pemenang pertama yaitu Rayna Vany Kusuma yang berkostum sebagai Hantu Jamu Gendong. Dia berhak mendapat hadiah yaitu free cycle atau gratis biaya kursus selama sebulan di TBI,” katanya.
Keluar sebagai pemenang kedua ialah Firna Fadia Haya yang berkostum sebagai nenek sihir, mendapatkan backpack TBI dan ketiga adalah Dimas Gustino yang berkostum sebagai Manusia Penjagal mendapat T-Shirt TBI.

Team Work yang Solid


Mengemas sebuah kehidupan suatu kota yang kompleks dan diwujudkan dalam sebuah kehidupan di mall tidak semudah yang dibayangkan. Banyaknya persaingan antar mall serupa tak pelak menjadi suatu tantangan tersendiri bagi Yunati Alinda, Public Relations Ekalokasari Plaza.

Gadis yang terbilang masih muda untuk seorang public relations ini telah bekerja di mall yang terkenal dengan sebutan Elok sejak ia lulus SMA. Tak pelak meski belia, bukan berarti ia kurang pengalaman. Dalam memajukan dan mempertahankan eksistensi mall sekaliber Elok, tak sedikit ia mengalami kesulitan.
“Memang sulit mengelola sebuah mall yang memiliki brand One Stop Shopping Destinantion ini. Namun, yang paling peting adalah Team Work yang solid dan selalu mengedepankan ide-ide terbaru untuk memajukan Ekalokasari Plaza,” papar gadis berkulit putih ini.

Gadis yang lahir pada 29 November 1985 ini memaparkan langkah-langkahnya dalam mengelola sebuah mall agar setiap pengunjung mendapatkan unique experion setiap mengunjungi Elok. Segmen yang dimiliki yaitu Middle Up and Family menjadi target pasar Elok. Setiap pengunjung pun diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginannya dalam sebuah mall dengan wawancara langsung oleh pihak Marketing Communication Elok sebulan sekali.

“Setiap bulan kami melakukan wawancara langsung kepada para pengunjung atau mengisi questioner tentang keinginannya yang belum bisa ia penuhi di Elok dan tak lupa kritik dan saran untuk manajemen Elok. Ini dimaksudkan untuk memajukan Ekalokasari dan melayani pengunjung sebaik-baiknya,” tuturnya.

Selain itu, pihak Ekalokasari juga telah memiliki konsep untuk setahun kedepan tentang event apa saja dan pelayanan apa saja yang harus dilakukan untuk pengunjung. “Misalnya tentang pemberian hadiah langsung setiap pembelanjaan Rp 500.000,- di semua tenan fashion berupa gift voucher senilai Rp 50.000,- yang bisa dibelanjakan di semua tenan yang ada di dalam area Ekalokasari Plaza,” tandasnya.

Ajarkan Menabung Sejak Dini


Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November memang masih delapan hari lagi. Berbagai perlombaan biasanya digelar untuk memaknainya. Namun, 60 anak-anak mulai dari usia TK hingga usia 12 tahun sangat antusias mengikuti berbagai acara perlombaan yang bertema “Satu untuk Bangsa Ku” dalam rangka memperingati hari Pahlawan yang digelar oleh Rain Production, Minggu kemarin (01/11) di lantai 3, Bogor Trade Mall.

Tiga perlombaan diadakan untuk meramaikannya yaitu Lomba Mewarnai Celengan dengan dua kategori yaitu tingkat TK dan Tingkat SD sampai kelas 3, Lomba Menggambar di atas Celengan untuk anak-anak kelas 4 SD hingga kelas 6 SD, dan terakhir Lomba Fashion Show dengan dua kategori. Kategori A usia 4 hingga 7 tahun dan kategori B usia 8 tahun hingga 12 tahun.

Panitia pelaksana, Savie dan Baby mengatakan lomba ini sengaja dilakukan untuk meningkatkan kreativitas anak-anak dalam berprestasi. Dalam lomba ini, dua diantaranya anak-anak diharuskan menggambar dan mewarnai diatas media celengan. Ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian sebab tak semudah mewarnai atau menggamabar di atas media datar.

“Kami ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Lomba mewarnai atau menggambar sudan umum dilakukan, namun tidak untuk mewarnai dan menggambar di atas celengan,” papar Savie kepada Jurnal Bogor, kemarin

Ia juga mengatakan bahwa celengan tersebut boleh dibawa pulang. Ini juga menandakan bahwa perlombaan tersebut juga membawa pesan baik untuk anak-anak agar menabung dari usia dini.

Peserta tak hanya dari daerah sekitar Bogor, tapi juga Cipayung hingga Jakarta. Pemenang pertama lomba mewarnai malah berasal dari Jakarta. Total seluruh juara berjumlah 19 pemenang dan masing-masing mendapatkan piala, uang, dan hadiah hiburan. Dalam waktu dekat, Rain Production juga akan mengadakan Magic Competition se Jabodetabek.

“Diharapkan dengan acara ini anak-anak lebih meningkatkan kreativitasnya dan bisa menghasilkan prestasi yang lebih banyak lagi,” tandasnya.

Let’s Going Green Lifestyle…

Dimana-mana kampanye untuk melawan Global Warming telah ramai diserukan oleh individu, pemerintah maupun komunitas tertentu yang mendukung gerakan penghijauan dan menginginkan bumi menjadi tempat yang lebih baik, mungkin termasuk Anda.
Ini telah menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan kita sekarang ini. Kita tidak bisa menutup mata bahwa bumi tercinta kita ini sedang terancam kelestariannya. Berbagai bencana yang datang silih berganti seperti gempa bumi, angin puting beliung, kebakaran hutan, longsor dan lain sebagainya telah menandakan kemerosotan nilai bumi kita dari waktu ke waktu. Ini adalah teguran dari alam dengan menyentil kepedulian diri membuat bumi tetap hijau agar nyaman untuk disinggahi.
Green Lifestyle adalah sebuah gaya hidup yang seharusnya sejak dulu telah kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini bukan berarti Anda harus serba hijau, rumah dicat warna hijau, pakai baju hijau, rambut berwarna hijau, sepatu hijau atau tubuh kita mesti hijau (seperti Hulk atau Alien). Bukan. Bukan itu esensi dari Green Lifestyle.
Gaya hidup semacam ini lebih menitikberatkan kepada kepedulian kita kepada bumi tercinta. Sebuah gaya hidup yang benar-benar menjadikan bumi ini sebagai “sahabat” Anda dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai “Objek” eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda.
Untuk memulainya, Anda tidak harus melakukan perubahan yang drastis terhadap pola hidup Anda. Kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil yang biasa kita lakukan sehari-hari. Setahap demi setahap dan dimulai dari hal yang kecil seperti aktivitas rutin dan dilakukan mulai saat ini, kita bisa memulai melestarikan bumi tercinta ini, ya kan?

1. Hemat Pemakaian Air
Biasakan menggosok gigi dengan kran tertutup. Jangan biarkan kran air terus terbuka dan air mengalir terus. Green Lifestyle dimulai dengan menutup kran tersebut dan mempergunakan air disaat anda memerlukannya saja.

2. Manfaatkan Lampu Listrik secara Bijak
Matikan lampu di saat tidak digunakan semisal Anda sedang bersama keluarga di ruang keluarga, matikan lampu kamar Anda. Selain menghemat energi, hal ini juga bisa menghemat pengeluaran Anda karena aman dari pengeluaran berlebihan.

3. Green Lifestyle dengan Cucian Anda
Manfaatkan semaksimal mungkin cahaya matahari di luar untuk mengeringkan pakaian meskipun Anda memiliki alat tekonologi tinggi yang bernama Mesin Pengering. Ini adalah salah satu cara menghemat energi. Hal yang sama juga bisa dilakukan saat mencuci baju. Daripada memakai mesin cuci, lebih baik cucilah secara tradisional dengan menggunakan tangan kita. Selain bisa menghemat listrik, Anda bisa sekalian berolahraga.

Menipu Publik dengan Greenwashing


Tak banyak yang tahu pengertian istilah Greenwashing. Ini adalah istilah yang muncul dari awal tahun 2000-an ketika banyak perusahaan atau korporasi mulai terlibat dalam kampanye hijau.
Dalam kamus Oxford,tak ditemukan istilah tersebut karena istilah ini adalah plesetan dari istilah whitewashing yang artinya adalah tindakan untuk menyembunyikan fakta yang tak menyenangkan atau dengan istilah lain perusahaan memberi kesan pada konsumennya bahwa mereka ikut peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup.
Dr. Wonny Ahmad Ridwan, SE, MM, pemerhati lingkungan yang juga dosen lingkungan di IPB mengatakan Greenwashing yang dilakukan sebuah perusahaan adalah dalam rangka mengangkat branding mereka dengan kesan yang baik dan seolah-olah produk mereka ramah lingkungan.
“Ini adalah fenomena di masyarakat kita dimana usaha tersebut bertujuan untuk mengkomersilkan produk mereka. Padahal pada kenyataannya banyak kegiatan mereka yang tak ramah lingkungan,” ujar Wonny kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Menurutnya, calon konsumen harus di edukasi oleh berbagai pihak yang mengerti tentang Greenwashing. Misalnya, LSM pecinta lingkungan, wartawan, dan orang-orang pecinta lingkungan hidup agar tak tertipu akan buaian manis atau janji-janji palsu akan pelestarian lingkungan seperti penanaman kembali pohon lalu ditinggalkan hingga mati. Semua dilakukan agar tak terjebak dan terlena dengan hasil karya public relation (PR) yang pintar. Selain itu, tentu saja, akan tercipta ilusi atau pencitraan yang tak benar.
“Ini adalah tugas kita untuk menyuarakan apa itu Greenwashing. Kita lakukan yang kita bisa seperti saya sebagai seorang dosen dalam beberapa kesempatan mengatakan kepada mahasiswa saya untuk mengurangi konsumsi rokok karena merusak diri dan lingkungan,” ujarnya.
Namun, hal ini bukan berarti fenomena Greenwashing akan berhenti. Semua kembali lagi pada konsumen, tindakan apa yang akan mereka lakukan demi menjaga kelestarian lingkungan hidup.
“Hal terpenting adalah menjaga keseimbangan. Kita memang harus menjaga lingkungan hidup namun harus sejalan dengan ikut mengutamakan kepentingan manusia itu sendiri. Inilah keseimbangan kehidupan,” pungkasnya.Sri Wahyuni